Oleh : Wahyu Wibowo
Hakikatnya dalam hidup ini tak pernah terlepas dari kegiatan menulis. Terbukti
sejak menempuh pendidikan dasar, menulis adalah kewajiban yang mutlak. Bukan
sekedar kewajiban, melainkan jembatan untuk menuju penempatan wawasan yang
didapatkan selama perjalanan hidup. Hal ini didasari oleh ketakmampuan memori
pikiran untuk menyimpan semua apa yang dijumpai dalam waktu yang singkat.
Dari kesekian rutinitas kegiatan menulis sejak pendidikan dasar, hanya sebagian
saja yang menulis berbentuk cerpen, artikel, atau karya tulis lainnya. Ini pun
dilakukan semata untuk meluapkan rasa yang sedang dialami. Padahal jikalau
rutinitas ini dilakukan dengan pemahaman lebih mengenai posisi atau bentuknya,
maka akan melahirkan keterampilan diri dan pengembangan potensi diri.
Ternyata paradigma sebagai siswa masih diadposi ketika status menyatakan
mahasiswa. Padahal di bangku perkuliahan, berdasarkan filosofisnya
menuntut perkembangan keterampilan menulis. Banyak hal kegiatan mahasiswa
berhubungan dengan menulis. Proposal, makalah, dan skripsi misalnya. Bahkan
setiap tahun Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)
menyelenggarakan Program Keterampilan Mahasiswa (PKM).