Laman

Menikmati Indahnya Pantai Matras

Pantai Matras terletak di Kabupaten Sungai Liat, Bangka Belitung.

Puncak Tertinggi Provinsi Sumatera Selatan

Gunung Dempo berada di Kota Pagaralam dan berketinggian 3183 mdpl.

Gravity Suku Anak Dalam

Jejak di Provinsi Jambi: Gravity Suku Anak Dalam (SAD) di Thehok, Jambi.

Berkunjung ke Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh

Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh-Sumbar didirikan oleh Uda Agus dan Uni Linda.

Lelaki Penyuka Koran

Setiap pagi, Lelaki ini gemar ke kios-kios koran dan berpura-pura membaca.

Rupa Cughup Besemah

Cughup (air terjun) Besemah terletak di antara Lahat-Pagaralam, Sumsel. Untuk mencapai ke sana, mesti jalan kaki hingga 1 jam perjalanan.

Berwisata Candi Prambanan

Candi Prambanan terkenal di telinga masyarakat lewat kisah Loro Jongrangnya.

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2016

Membaca Kehidupan




Resensi Tribun Jateng 27 Desember 2015
Judul Buku     : Celoteh-Celoteh
Penulis             : Agus Budi Wahyudi
Penerbit          : bukuKatta
Cetakan         : I, Agustus 2015
ISBN                : 978-602-0947-174
Halaman         : 192


Peristiwa takkan henti mengisi ruang kehidupan manusia. Pelbagai macam peristiwa—baik yang dapat maupun tidak dapat dilihat—terus terjadi begitu saja. Mengalir mematuhi titah Sang Penciptanya. Tidak semua peristiwa yang muncul dapat ditangkap, dilihat, atau diresapi karena keterbatasan manusia. Meski begitu, sudah sepantasnya untuk membaca pesan kehidupan dari peristiwa yang melimpah itu, sekalipun sedikit.

Jumat, 15 Januari 2016

Narasi Perjalanan, Kepiluan Pendidikan, dan Buku Kemanusiaan



(Bukti publikasi di Radar Mojokerto, 10 Januari 2016)
 
Kisah perjalanan melintasi bermacam samudera, mendaki belasan gunung, atau menikmati keteduhan para sawah dan kengerian tak terduga pelbagai tanah nusantara, berada pada bab terpenting bagi setiap orang. Narasi kisah perjalanan ini dapat menenggelamkan diri pada nuansa membahagiakan, mengesankan, dan menenggelamkan kesedihan yang hendaknya diketahui oleh seminimal orang-orang sekitar.

Senin, 11 Januari 2016

Cerpen "Ketika Datang Panggilan"




 (Publikasi di Radar Banyuwangi)
            
 Seperti biasa, langit menyajikan kenyaman bagi penginjak bumi. Angin mendesir mesra dari arah hulu. Ketika itu, sahut-sahutan kicau burung menyisir lembah sungai. Sehingga tak hanya gemericik sungai yang mengisi sekitar sungai, melainkan suara alam yang menampakkan kekhasan. Apalagi dari aliran sungai sebagian terdapat batu-batu yang melahirkan nada riuh dan berombak. Aura menakutkan menjamah diri, kecuali hanya cericau burung yang hijrah dan menukik merdu di telinga.

Minggu, 10 Januari 2016

Puisi "Negeri Antah Berantah", "Kampung Idaman", "Danau Mas"

 
 (Publikasi Duta Masyarakat)

Selamat pagi teman-teman. Berikut adalah puisi-puisi saya yang (kebetulan) terbit di Koran Duta Masyarakat, Surabaya, pada hari ini. Semoga nantinya dapat dijadikan salah satu bacaan yang menarik atau setidaknya mengisi waktu senggang. Selanjutnya, dapat mengajak kita semua untuk berupaya menulis dan berkarya dalam bentuk apapun. Baiklah, mari kita baca puisi-puisinya!

Negeri Antah Berantah

bumi ini sudah terlalu tua, tuan
minyak bumi tak lagi cukup untuk para penghuni
sehingga lazim melihat barisan penghuni rapi mengantri
lalu mengambil ruah keringat di dalam saku secara lebih
“tak lagi sesuap nasi, tapi ini harga mati.”

Minggu, 20 Desember 2015

Puisi "Episentrum Adika' dan "Arca"


  contoh koran


 
Episentrum Adika

Tercipta episentrum di cakrawala ilmu
Dari tangan *Ijazil menyusup kelu
Dan pucuk lidah menyaput kaku
Di samping wajah penuh kuyu

Rabu, 02 April 2014

Terima



Boleh saja kau palingkan muka seraya membara dalam kata
Tetapi sealir darah tak dapat menyangkal atas firman-Nya

Indralaya, 20 Mei 2012

Rabu, 12 Februari 2014

Kenari yang Kehilangan Kompas


 Oleh : Wahyu Wibowo


Ibu, sekian hasta waktu berlalu pun melagu. Kicauanku tak lagi membangunkan cahaya mentari yang kugenggam senja kemarin. Angin pun jengah membujuk lelahku dengan canda atau sekedar celoteh sebagai pengisi ruang hampa.

Ibu, telah hilang butiran-butiran embun yang kupilin karena terik membakarnya saat terlelap dalam fana dunia. Tak bersisa tak bernyawa selain jelaga nganti tak tau diri.

Ah, ibu... dimanakah arah yang kau ceritakan lewat memoar dari aliran air susumu? Akankah layak putra semata wayangmu melahap dahaga demi detik yang memintal jarum jam?

Jumat, 07 Februari 2014

Bingkis Ramadhan


Lamat-lamat menapak terang samudra semesta
Atom Tuhan tegur lewat bercik sinarnya
Dan cincin alam mengapung di Bima Sakti raya
Takjub menyatu dalam ruang rindu
Kerinduan yang utuh

Berawal Rajab dan Syaban beriring rima
Zaitun dan kurma bersenggama
Menyatukan wujud pada sesosok karomah
Pada dinasti langkah zaman tak bermunajad syurga

Selasa, 28 Januari 2014

Merapal Alfa


Oleh : Wahyu Wibowo


Sejak perumpaan tak sengaja
yang mengalir deras dari bibir
tentang alfa. Perihal kebiasaan
adalah ajang perbaikan yang
terkadang tak disadari sebab
diri larung dalam kesendirian

Sungguh! Tak lelah membaca
araharah dari ayatayat alfa yang
selama ini meresahkan jiwa
begitu, anjur yang kau beri
suatu waktu pada temu

Sabtu, 25 Januari 2014

Perempuan di Ujung Mata


Oleh: Wahyu Wibowo



          
              Hari hendak menutup mata. Gelagat putih menjauh pergi. Nanar sinar pun pudar ditilang waktu. Tepat di pelupuk mata, kabar hadir redup ditelan angin. Ah, andai saja masih pagi. Kurengkuh niat bersih untuk menyulam laranya. Hendak apa dikata, ia tenggelam dalam tidurnya sendiri.

            Di sepanjang jalan lintas Sumatera lalu lalang kendaran tak pedulikan kiri-kanan. Debu sebabnya hantar lusuh wajah dan sekujur tubuh. Tak hirau air pembersih mengguyuri tubuh sebelumnya. O, janganlah melusuhkan hati juga. Kalau sampai terjadi, betapa malangnya hidup. Janganlah, jangan! Aku enggan terseruput jelaganya.

            Kian berisik, kain menukik suara kendaraan ke pori-pori telinga. Kendaraan yang tak pernah hilang dari kedipan mata akan lalu lalangnya. Kendaraan yang merelakan sebagiannya tergoyang setelah lewati paruh jalan berlubang. Goyangan yang tak seperti teraturnya goyangan Bumi ketika mengelilingi porosnya, Matahari. Pun Matahari mengelilingi Galaksi. Lalu, galaksi beredar pada alam semesta. Melainkan goyangan yang sedikit saja tak mendapati celah, maka merelakan segala isinya tumpah ruah meratai alas jalan.

Rabu, 22 Januari 2014

Getir Hati


Oleh : Wahyu Wibowo



Singkat cerita di balik rintik hujan
Singkap nyata di balik cawan menyan

Episentrum
Sentrum diri di cangkang
Sentrum naluri bergeming
Sentrum waktu pada palung getir, siring

Selasa, 21 Januari 2014

Menyimpan Rindu


Oleh : Wahyu Wibowo



Dan aku tetap menyimpan rindu
dari sekian lama persembunyian
yang aku sendiri tak mampu membaca diri
Katup masih enggan membuka jendela hati

Sebagian suara-suara yang terdengar
mengoarkan kebahagiaan. Tak perduli
apalagi memerhati sisi lain yang tak
hentinya mengais dan mengemis kasih

Kamis, 16 Januari 2014

Syahrun Azhim


Oleh : Wahyu Wibowo




Dalam dekap gempita kesunyian
Khusyuk duduk pesinar dunia sendiri
Awang-awang menghalang rajam tangan-tangan dekil
Bebatu bergeming atur kemudi mengikuti
Betapa cawan hati berdegup-urat mengkaku
gigil menyentak muka latar Hira
Perjalanan Ruh menjadi bebutir debu berseliweran
Semisal fasih narasi mencairkan depa hijab Ghaib
inikah selayak wajah syurga?


Jumat, 26 Juli 2013

Setelah Nyawa Itu Ada


Oleh : Wahyu Wibowo


             Gerimis memandu kelebat rasa rindu. Rintiknya mencumbu jiwa yang sejak lama telah menanti. Baru kali ini, malam hadirkanku sendirian dalam bedeng tua. Malam yang rencananya akan kupergunakan untuk rangkai beberapa baris kata untuk dikirimkan ke media lokal. Malam yang dengannya aku dapat merasakan betapa tulang begitu hampa. Malam yang dengannya aku berbagi cerita hanya dengan Tuhanku di sudut bedengan. Malam yang dengannya aku merasakan kecambuk pikiran yang tak kunjung usai. Malam, ah...entahlah, tak mampu kuuraikan selentur selendang sutra pada bidang logika untuk dijadikan bahan ejaan.

Di luar jendela

            Bulir air hujan menetesi muka daun, rumput, dan teras bedeng. Merembab, merambat ke sekujur  pori-pori di kemiringan tanah. Aku menatapnya rekat. Bulir yang ingatkanku ketika masih di SMA dulu. Ketika itu, di sebuah anak tangga seperti biasa meramu canda. Di wajah-wajah kami tersembul rona terindah seraya menangkap pasat bulir air hujan yang secara bergantian turun dari langit. Aku tiba-tiba merasakan inilah selang waktu terbentang yang tepat untuk merangkai kisah terindah sepanjang masa.

Sebentar kutatap langit, ia masih saja benderang dengan pancarnya seperti biasa pun ketika gumpalan awan mengepung pengarahannya ke sisi Bumi. Bersamaan itu, merapat onak-onak benak menyiasati jejak lewat hasutan alur hidup tak dapat ditebak. Karenanya aku terkatung-katung pada pilihan yang menguras keringat. Berhamburan bulirnya dari semua pori, tak seperti biasa. Serupa musim ketika berpaling dari kemarau menjadi hujan, tak tertahan lagi oleh jampi-jampi gumpalan bulir hujan menghujam sisi Bumi. Bahkan sepanjang siang dan malam bukanlah sebagai penghalang.

Rabu, 10 Juli 2013

Kerlip Pandang



: Luluk Andrayani

lihatlah langit yang menjuntai
di bawahnya tukikan cemara setelah
menyemai rindu kala separuh mengaduh

lihat pula bukit-bukit yang bertebaran
dalam sudut mata pandang
di antara kota dan desa
memasang candu atas hehijauan sawah
dermaga nikmat sang Kuasa

Senin, 01 Juli 2013

Kehilangan Jejak




Oleh : Wahyu Wibowo

Sungguh, kalap mata menatap hari
di pendar-sinar berhamburan bayang
yang kemarin, membumbui temu
ketika decap waktu mencandu

Selarasnya kail diseburkan ke sungai
menunggu goyang dan tarik ikan ke dalam
lalu lepas dengan mengupas makanan

di sejenak aku menyepi
melarung diri
kepada langit yang berseri
dan di pundak-pundak bumi
aku membagi
lirih, atas keluh yang membanjiri

lantas, jejak-jejak gagah
menghilang, meninggal nama
atas gelisah di episentrum jiwa

Indralaya, 9 10 Mei 2012


*Puisi ini dipublikasikan di rumah puisi Indonesia, "Bengkel Puisi Swadaya Mandiri"

Sabtu, 29 Juni 2013

Malam Minggu



Oleh : Wahyu Wibowo

Ada yang bilang malam minggu memiliki beberapa keistimewaan: berkumpulnya kata-kata indah dari sebuah pertemuan tentang bulan yang katanya cahayanya serupa matahari di siang hari. Pudarnya wewarna hitam dari sekumpulan putih yang menderang. Pun sedikit hehitam, tidak ada sama sekali yang dapat dilihat.

Ada yang bilang malam minggu memiliki beberapa keistimewaan: burung-burung tak lagi merehatkan tubuh di sarang dan merapatkan suara ke muara kedamaian. Mereka berkicau tentang taman-taman yang berbeda dari hari-hari biasanya. Yang semerbak aroma bunganya menyebar dan mengumbar kepaduan tentang keindahan sebuah jelan hidup.

Ada yang bilang malam minggu memiliki beberapa keistimewaan: Ah, sebaiknya berpikir yang wajar saja. Antara pembeda dan berbeda takkan pernah sama.


*sebuah catatan kecil dari pembelajaran di Flp Ogan Ilir....

Indralaya, 29 Juni 2013