Laman

Menikmati Indahnya Pantai Matras

Pantai Matras terletak di Kabupaten Sungai Liat, Bangka Belitung.

Puncak Tertinggi Provinsi Sumatera Selatan

Gunung Dempo berada di Kota Pagaralam dan berketinggian 3183 mdpl.

Gravity Suku Anak Dalam

Jejak di Provinsi Jambi: Gravity Suku Anak Dalam (SAD) di Thehok, Jambi.

Berkunjung ke Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh

Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh-Sumbar didirikan oleh Uda Agus dan Uni Linda.

Lelaki Penyuka Koran

Setiap pagi, Lelaki ini gemar ke kios-kios koran dan berpura-pura membaca.

Rupa Cughup Besemah

Cughup (air terjun) Besemah terletak di antara Lahat-Pagaralam, Sumsel. Untuk mencapai ke sana, mesti jalan kaki hingga 1 jam perjalanan.

Berwisata Candi Prambanan

Candi Prambanan terkenal di telinga masyarakat lewat kisah Loro Jongrangnya.

Tampilkan postingan dengan label Flash True Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash True Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

Jantung Pertemuan Berbuah Duka




            Ayo lihat semua
            Kapten kita datang
            Seluruh penjuru kota
            Puji kehebatannya

Potongan lirik lagu “Captain Tsubasa” di selembar kertas yang Iryanto berikan padaku untuk dinyanyikan bersama. Ketika kami menghibur diri dengan lagu tersebut dengan segera kau serobot lembar kertas tersebut. Aku geram akan tingkah lakumu. Terlagi saat mulai kau nyanyikan lirik lagu tersebut dengan suara merdumu di depan kami.

Minggu, 23 Juni 2013

Himpunan Butiran Debu


Oleh : Wahyu Wibowo


Adalah saat yang tepat untuk mendiferensialkan rasa rindu yang berkelebat selama seminggu terakhir. Juga rasa yang takkan diberitahukan kepada keluarga. Sebab jikalau rasa ini sampai muncul di permukaan mereka maka sisi-sisi khawatir akan menggunung dan tentu akan terkuras waktu untuk menimangku seperti masa bayiku, dulu.

Aksioma hidup yang sudah kupegang teguh sejak tujuh tahun lalu takkan kuleburkan. Terlagi, hanya dengan hal sepele seperti ini yang jikalau dihitung barangkali masih cukup jari untuk menghitungnya selama di tanah rantau ini. Ya, mandiri dan tak merepotkan orang lain, tanpa kecuali. Pun keluarga yang notabene rusuk terdekat dengan hidupku. Bahkan aliran darahku, nafasku adalah aliran yang bersumber mereka.

“Saatnya tiba.” lirihku di depan kaca.

Pakaian telah tertata rapi di matrik almari dan sebagian di balok tasku. Lelah rasanya telah berkurang setelah empat jam merebahkan diri di ranjang. Lelah yang bersumber dari aktifitas kampus yang benar-benar mendapatkan pelajaran berarti sekaligus pukulan telak bagi tubuhku. Bagaimana tidak, seminggu sudah aku bersama anggota lainnya harus merelakan malam yang mestinya dipergunakan untuk istirahat, tetapi kami gunakan untuk mempersiapkan agenda secara matang. Belum lagi pada hari H, grafik tangen sesuai untuk penggambaran jalan hidupku. Ya, kala itu masih dengan badan yang belum memiliki energi utuh, aku turut serta mensukseskan agenda yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Badan yang begitu tak stabil sangat terasa di siangnya, dan di rubik benak hingga terpikir sakit yang akhir-akhir ini merebah di tanah rantau ini. Sudah banyak mahasiswa menjadi korban keganasannya. Hepatitis namanya.