O
leh : Wahyu
Wibowo
Adalah saat yang tepat untuk mendiferensialkan
rasa rindu yang berkelebat selama seminggu terakhir. Juga rasa yang takkan
diberitahukan kepada keluarga. Sebab jikalau rasa ini sampai muncul di
permukaan mereka maka sisi-sisi khawatir akan menggunung dan tentu akan
terkuras waktu untuk menimangku seperti masa bayiku, dulu.
Aksioma hidup yang sudah kupegang teguh sejak
tujuh tahun lalu takkan kuleburkan. Terlagi, hanya dengan hal sepele seperti
ini yang jikalau dihitung barangkali masih cukup jari untuk menghitungnya
selama di tanah rantau ini. Ya, mandiri dan tak merepotkan orang lain, tanpa
kecuali. Pun keluarga yang notabene rusuk terdekat dengan hidupku. Bahkan
aliran darahku, nafasku adalah aliran yang bersumber mereka.
“Saatnya tiba.” lirihku di depan kaca.
Pakaian telah tertata rapi di matrik almari dan
sebagian di balok tasku. Lelah rasanya telah berkurang setelah empat jam
merebahkan diri di ranjang. Lelah yang bersumber dari aktifitas kampus yang
benar-benar mendapatkan pelajaran berarti sekaligus pukulan telak bagi tubuhku.
Bagaimana tidak, seminggu sudah aku bersama anggota lainnya harus merelakan
malam yang mestinya dipergunakan untuk istirahat, tetapi kami gunakan untuk
mempersiapkan agenda secara matang. Belum lagi pada hari H, grafik tangen
sesuai untuk penggambaran jalan hidupku. Ya, kala itu masih dengan badan yang
belum memiliki energi utuh, aku turut serta mensukseskan agenda yang sudah
dirancang jauh-jauh hari. Badan yang begitu tak stabil sangat terasa di
siangnya, dan di rubik benak hingga terpikir sakit yang akhir-akhir ini merebah
di tanah rantau ini. Sudah banyak mahasiswa menjadi korban keganasannya.
Hepatitis namanya.