Laman

Menikmati Indahnya Pantai Matras

Pantai Matras terletak di Kabupaten Sungai Liat, Bangka Belitung.

Puncak Tertinggi Provinsi Sumatera Selatan

Gunung Dempo berada di Kota Pagaralam dan berketinggian 3183 mdpl.

Gravity Suku Anak Dalam

Jejak di Provinsi Jambi: Gravity Suku Anak Dalam (SAD) di Thehok, Jambi.

Berkunjung ke Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh

Rumah Baca Pustaka 2, Payakumbuh-Sumbar didirikan oleh Uda Agus dan Uni Linda.

Lelaki Penyuka Koran

Setiap pagi, Lelaki ini gemar ke kios-kios koran dan berpura-pura membaca.

Rupa Cughup Besemah

Cughup (air terjun) Besemah terletak di antara Lahat-Pagaralam, Sumsel. Untuk mencapai ke sana, mesti jalan kaki hingga 1 jam perjalanan.

Berwisata Candi Prambanan

Candi Prambanan terkenal di telinga masyarakat lewat kisah Loro Jongrangnya.

Selasa, 25 Juni 2013

Mahakarya Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya


            Tingkat kreatifitas memang tiada batasnya. Hal ini terbukti dari puluhan mahasiswa pendidikan matematika Universitas Sriwijaya (Unsri) yang berhasil membuat buku kumpulan puisi, cerpen, dan komik matematika. Tanpa membatasi ruang yang sedang diarungi dan kekreatifitasan yang seharusnya dimiliki semua mahasiswa, mereka berhasil menggabungkan itu semua ke dalam sebuah tulisan.
Mahasiswa yang hampir sebagian besar tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Ogan Ilir ini dan Komunitas Sastra Unsri ini berhasil menggungkapkan keindahan matematika dengan tulisan dan lukisan. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, akan tetapi dengan keinginan yang keras dan melahirkan pandangan berbeda mengenai matematika maka ini merupakan kewajiban. Sehingga menjadi pelecut tersendiri untuk memberikan yang terbaik.

Ketika Mahasiswa Tampil di Media


Dewasa ini, mahasiswa semakin giat meningkatkan keterampilannya dalam segala bidang. Ini merupakan kabar gembira bagi seluruh institusi pendidikan. Geliat itu mulai tampak dari semakin banyaknya minta mahasiswa yang mengikuti berbagai bidang keterampilan. Namun yang sangat menonjol akhir-akhir ini berada pada bidang menulis.

Kegiatan menulis memang tiada seorang pun yang mampu luput darinya. Sejak pendidikan dasar bahkan sudah dituntut untuk melakukan keterampilan tersebut. Kemutlakan tersebut menjadi landasan awal untuk meningkatkan daya kreatifitasnya dalam sisi menulis tertentu. Baik bersifat fiksi maupun non fiksi (ilmiah).

Pada bidang ilmiah, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan Direktorat Jendral Dikti, minat mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut terus meningkat. Di Universitas Sriwijaya misalnya, setelah pada tahun 2011 yang mengikuti program ini tidak mencapai 40 proposal, namun pada tahun 2012 mengalami peningkatan yang significant. Tercatat lebih dari 100 proposal yang diajukan oleh mahasiswa.

Rubrik di Lampung Post




Beberapa teman menanyakan bagaimana menulis di Koran Lampung Post, dapat honorkah? Berikut infonya:

1.Rubrik Cerpen.
   Syaratnya : Ketik  minimal 6 halaman, spasi 1,5 kirim ke email   lampostminggu@yahoo.com 
   atau redaksilampost@yahoo.com. Honornya Rp. 200 ribu.
   
2. Rubrik Cernak.
    Syaratnya : ketik 3-4 halaman, 1.5 spasi kirim ke email  lampostminggu@yahoo.com  atau   
    redaksilampost@yahoo.com .    Honornya Rp. 100 ribu. Tema cernak bebas, bisa dongeng,
    fabel, dan legenda (menceritakan kembali).

3. Rubrik Opini
    Ketik maksimal 4 halaman, spasi 1,5 kirim ke email  lampostminggu@yahoo.com  atau
    redaksilampost@yahoo.com. Honornya sekitar Rp. 150 ribu-Rp. 200 ribu.

4. Rubrik Puisi.
    Kirim 3-5 puisimu dengan tema yang beragam. Kirim ke   
    lampostminggu@yahoo.com  atau redaksilampost@yahoo.com. Honornya Rp. 100-Rp. 150 ribu.

Senin, 24 Juni 2013

Sepiring Empedu




 Tragis!!!

Sesosok lelaki renta terkulai. Kakinya terjerembab di lereng-lereng bukit. Alur langkahnya sempoyongan bersama dengus angin menerjang keras. Tubuhnya peluh diremas terik yang menyeringai sekujur tubuh. Rajutan bulir bernada asin mengekang basah pada lusuh baju hembusan debu. Mengoyak dahaga dipelesiran asa. Menganga bibir sesugukan menelan ludah.

“Kicau burung masih menari di bumi pertiwi. Layukah tubuh dimakan hari?”

Harmoni angin menghembus beda rasa. Pada pohon-pohon rindang terjauh di puncak mengirim belaian mesra. Menyekat tubuh pada kenikmatan optimal terasa sejenak. “Lupakanlah segala lara!”

Tiga puluh tahun sudah kenyataan pahit didapatkan. Dalam detik berlalu, ia habiskan dengan berujar syukur. Acapkali cerca dilontar para tetangga sedang tubuh masih keruh dan bejibun peluh. Hanya senyum dan helusan dada sebagai penyambutnya. Kelaziman tingkah laku juga selalu ia tanamkan pada sosok putra-putranya.

Minggu, 23 Juni 2013

Himpunan Butiran Debu


Oleh : Wahyu Wibowo


Adalah saat yang tepat untuk mendiferensialkan rasa rindu yang berkelebat selama seminggu terakhir. Juga rasa yang takkan diberitahukan kepada keluarga. Sebab jikalau rasa ini sampai muncul di permukaan mereka maka sisi-sisi khawatir akan menggunung dan tentu akan terkuras waktu untuk menimangku seperti masa bayiku, dulu.

Aksioma hidup yang sudah kupegang teguh sejak tujuh tahun lalu takkan kuleburkan. Terlagi, hanya dengan hal sepele seperti ini yang jikalau dihitung barangkali masih cukup jari untuk menghitungnya selama di tanah rantau ini. Ya, mandiri dan tak merepotkan orang lain, tanpa kecuali. Pun keluarga yang notabene rusuk terdekat dengan hidupku. Bahkan aliran darahku, nafasku adalah aliran yang bersumber mereka.

“Saatnya tiba.” lirihku di depan kaca.

Pakaian telah tertata rapi di matrik almari dan sebagian di balok tasku. Lelah rasanya telah berkurang setelah empat jam merebahkan diri di ranjang. Lelah yang bersumber dari aktifitas kampus yang benar-benar mendapatkan pelajaran berarti sekaligus pukulan telak bagi tubuhku. Bagaimana tidak, seminggu sudah aku bersama anggota lainnya harus merelakan malam yang mestinya dipergunakan untuk istirahat, tetapi kami gunakan untuk mempersiapkan agenda secara matang. Belum lagi pada hari H, grafik tangen sesuai untuk penggambaran jalan hidupku. Ya, kala itu masih dengan badan yang belum memiliki energi utuh, aku turut serta mensukseskan agenda yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Badan yang begitu tak stabil sangat terasa di siangnya, dan di rubik benak hingga terpikir sakit yang akhir-akhir ini merebah di tanah rantau ini. Sudah banyak mahasiswa menjadi korban keganasannya. Hepatitis namanya.

Sabtu, 22 Juni 2013

Menulis, Budaya Terlupakan oleh Mahasiswa

Oleh :  Wahyu Wibowo

          Hakikatnya dalam hidup ini tak pernah terlepas dari kegiatan menulis. Terbukti sejak menempuh pendidikan dasar, menulis adalah kewajiban yang mutlak. Bukan sekedar kewajiban, melainkan jembatan untuk menuju penempatan wawasan yang didapatkan selama perjalanan hidup. Hal ini didasari oleh ketakmampuan memori pikiran untuk menyimpan semua apa yang dijumpai dalam waktu yang singkat.

          Dari kesekian rutinitas kegiatan menulis sejak pendidikan dasar, hanya sebagian saja yang menulis berbentuk cerpen, artikel, atau karya tulis lainnya. Ini pun dilakukan semata untuk meluapkan rasa yang sedang dialami. Padahal jikalau rutinitas ini dilakukan dengan pemahaman lebih mengenai posisi atau bentuknya, maka akan melahirkan keterampilan diri dan pengembangan potensi diri.

          Ternyata paradigma sebagai siswa masih diadposi ketika status menyatakan mahasiswa.  Padahal di bangku perkuliahan, berdasarkan filosofisnya menuntut perkembangan keterampilan menulis. Banyak hal kegiatan mahasiswa berhubungan dengan menulis. Proposal, makalah, dan skripsi misalnya. Bahkan setiap tahun Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) menyelenggarakan Program Keterampilan Mahasiswa  (PKM).

Lingkar Apresiasi Terhadap Mahasiswa

Oleh : Wahyu Wibowo

Hakikatnya status sebagai mahasiswa sangat menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat yang berada di daerah terisolir dan daerah yang jauh dari lingkup perkotaan, terlagi tercatat sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terbaik di negeri ini.

Kebanggaan yang bukan tanpa landasan melainkan dengan daya tarik dan memberikan energi positif terhadap masyarakat (pemuda) di daerah itu sendiri untuk menjadikan panutan dan terus melangkah meraih mimpi yang diidamkan. Terbukti setiap masa liburan tiba, masyarakat menyambut baik dan mengagungkan mahasiswa tersebut. Bahkan mahasiswa dianggap memiliki kemampuan serba bisa, sehingga pada kegiatan yang ada di daerah tersebut dilimpahserahkan kepada mahasiswa.

Di Indonesia, setiap tahun tak kurang dari seratus ribu yang mengubah status dari pelajar menjadi mahasiswa. Tentu bukan angka yang kecil bagi suatu Negara, tetapi kenyataan yang ada pada pelajar Indonesia yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi jauh lebih besar dibandingkan pelajar yang berkesempatan untuk melanjutkan di Perguruan Tinggi. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam memajukan bangsa. Bagaimana tidak, melalui jalur pendidikan segala aspek dapat berkembang. Menurut hemat penulis bahwa melalui pendidikan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) disegala bidang akan tercapai. Sehingga pendidikan dapat dikatakan sebagai pilar utama dalam pembangunan bangsa yang kaya ini.

Jumat, 21 Juni 2013

Telaga di Mata Kita

 














Oleh : Wahyu Wibowo

adakah yang tau dimana letaknya telaga?
ya, letaknya di mataku, di matamu, di mata mereka, di mata kita semua
bias sinar takkan rapuh merangkum kisahnya
muara tentang segala hal penuh cinta dan cahaya

lalu, semilir rayap-merayapi hari
di sekitar pundak-pundak tuan peniup doa-doa penguat diri
meratapi dan meresapi bulir-bulir keringat yang mebah di pori-pori
dan pergi  –melenyap sunyi–  menyisakan bulir lirih

“pedulikah tuan untuk berbagi?”
perih mendengar ucapan lirih itu
getir manaksir dan melengsir sihir-sihir
ke pundak memuncak gelak pilu

telaga di mata kita, kawan
taksirlah cahaya mentari yang tak terhitung luas dan banyaknya
ketika kau putuskan untuk mengukurnya
-tak hingga, sungguh!

telaga di tangan kita, dan menderaplah langkap penuh cinta serta doa saban suka-cita
Indralaya, 11 Januari 2013


*Puisi ini dipublikasikan di Eramadina.com ( 15 Juni 2013)

Dua Pintu Depan Jiwa



Oleh : Wahyu Wibowo

Pun antara dua pilihan mendatangi jiwa
bilah-bilah menanyai dengan mereka mesra
Karena bilah tau tentangnya
garis-garis merah membahana
dan penuturan mematuk hingga tergeletak kelak
mata membelalak. Kepak badan kiri-kanan
melawan pegangan itu akan dirasa sia

Pun perbandingan turut serta
dalam penentuan hendak ditetap
bersandi lanskap tanpa akhir peratapan
karena bumi pijak pun enggan melihat bulir tangisan

Bejibun tahta bejibun mahligai
pada lorong-lorong penuh rona


*Puisi ini dipublikasikan di Kumcer.com (5 Juni 2013 ) dan Eramadina.com (3 Juni 2013)

Rona Alam Semesta


 Oleh : Wahyu Wibowo

Segala prahara termasuk darah dan bara
adalah warna. ketika pertama menghirup udara
di muka bumi. tempat pijak paling berisi
kisah-kisah membawa diri pada Ilahi

Lalu di puncak diri. tersenyum burung-burung
menebar salam langit. melukis sayang pelangi.
dan mengiringi angin-angin yang menyentuh lembut
tubuh. hingga buai mesra terasa mengikat
tentang :hari yang saat itu
seorang ibu merelakan nyawa
menghabiskan nafas
menelan perih
atas nyawa diri, o diri

di bawah langit, sunyi diri menyepi
sekalipun deburan ombak memasang gerah
atau bising menyingsing perut bumi
kepada siapa lagi, diri
selain mengabdi. munajad segala isi hati
untuk esok, mencerah bumi yang sebagian terkabut

Di samping khusyuk kepada Ilahi
seisi Semesta merona
atas pengabdian diri
sebagai abdi
di bumi
ini




*Puisi ini didokumentsikan dalam Kumcerku.com (05 Juni 2013) dan Eramadina.com (23 Mei 2013)



Sebuah rangkaian singkat dan sederhana ini, diharapkan dapat menyentuh qalbu. Sehingga nantinya lahir benih-benih cinta yang selanjutnya dapat mencerminkan diri dengan situasi (baca : keberadaan saat ini).